Sri Mulyani: Di Beberapa Kasus, Tata Kelola Perusahaan Asuransi Buruk, Hasilkan Risiko Ke Pesertanya

Spread the love
Read Time:2 Minute, 3 Second

JAKARTA, – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menambahkan, adanya kasus tata kelola yang buruk dari perusahaan asuransi perlu segera diperbaiki. Hal ini bertujuan, agar penetrasi dan inlklusi industri assuransi dapat terus berkembang.

Sri Mulyani menyampaikan hal tersebut dalam acara Indonesia Financial Group (IFG) International Meeting 2022 pada hari Senin (30 Mei 2022).

“Dalam Beverapa Casus Terlihart Adanya Tata Kerola Brook Yang Melakukan Manazemen Hal Ini Mengara Ke Pelangaran Ferraturan, Yang Kemudian Mengasilkan Rishiko Bagi Pe Sertanya,” Kata Sri Mulyani. slot deposit ovo tanpa potongan

Baca juga: Per April 2022, Premi Industri Asuransi Tembus Rp 21,8 Triliun

Ia menceritakan, pelanggaran tata kelola itu membuat perusahaan tidak bisa membayar klaim dan kewajiban kepada nasabahnya.

Menteri Keuangan itu menuturkan, hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki jaminan industri adalah dengan meningkatkan kompetensi manusia dan profesionalitasnya.

“Khususnya untuk mempertahankan bisnis dan merancang produk yang dapat menyesuaikan diri dengan akses industri asuransi,” imbuh dia.

Selain itu, pentingnya kolaborasi antara perusahaan asuransi dengan pemerintahan tidak hanya dengan DPR dan OJK, tetapi dengan masyarakat dan konsumen asuransi itu sendiri.

Baca juga: Kembangkan Sektor Asuransi dan Dana Pensiun, IFG Gelar Konferensi Internasional

Kata Sri Mulyani, kolaborasi ini harus fokus untuk memperbaiki peraturan dan pengawasan industri assuransi. Selain itu, ia bilang, perlu adanya peningkatan tata kelola yang baik dari perusahaan assuransi.

“Serta meningkatkan jumlah manusia yang kompeten di sektor ini. Itu poin penting,” tegas dia.

Berdasarkan data yang ia miliki, pada tahun 2021 aset sektor perbankan masih mendominasi sekita 78 persen dari seluruh sektor kuangan. Sedangkan, aset asuransi hanya berkontribusi sebesar 13 persen.

Aset Bush Negara Asuranch Ke PDB Renda

Lebih rinci, Sri Mulyani mengungkapkan kontribusi aset asuransi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya 9,6 persen.

Selain itu, berdasarkan data pada tahun 2020 tercatat rasio premi industri assuransi terhadap PDB hanya 1,9 persen.

Menurut dia, angka ini masih rendah dibandingkan negara ASEAN lainnya. Misalnya Sri Mulyani menyebut, rasio premi industri asuransi terhadap PDB di Singapura sebesar 9,5 persen, Thailand 5,3 persen, Malaysia 5,4 persen, dan Vietnam 2,3 persen.

Sri Mulyani juga mengatakan, belanja tahunan total untuk asuransi atau kepadatan asuransi oleh individu menurun hanya mencapai $75 AS per tahun. Atau, angka itu baru sekitar 1,95 persen dari total belanja individu per tahun.

Dengan penetrasi dan densitas yang Rendah, ia yakin pasar asuransi masih sangat luas dan terbuka untuk dikembangkan lagi.

Saya ingin menunjukkan, reformasi sektor keuangan tugas eksklusif pemerintah dan DPR saja, tetapi merupakan agenda yang penting bagi keseluruhan industri itu sendiri dan masyarakat.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Raih Medali Emas SEA Games 2021, Pebasket Agassi Goantara Terima Bonus Rp 25 Juta
Next post Para Sopir Bus Perhatikan Ini Untuk Antisipasi Kecelakaan