Proyek Tol Tanggul Laut Semarang-Demak Dianggap Memperparah Penurunan Muka Tanah Pantura Jateng

Spread the love
Read Time:2 Minute, 56 Second

JAKARTA, -Banjir rob dilaporkan masih belum surut dari wilayah pesisir Semarang dan Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng).

Bencana tersebut disebabkan jebolnya Tanggul Laut Tambak Mulyo di Semarang pada Senin (23/5/2022) dan Tanggul Laut Sungai Meduri di Pekalongan pada Selasa (24/5/2022). slot gacor maxwin 2022

Karena ketinggian banjir rob yang kian parah dan jangka waktu yang dibutuhkan untuk membuat kawasan kembali kering terbilang cukup lama, muncul berbagai asumsi mengenai penyebab masalah ini terjadi.

Salah satunya adalah karena penurunan muka tanah di wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura) Jateng yang dipicu oleh pembangunan infrastruktur Jalan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak (TTLSD).

Manajer Pengelolaan Pengetahuan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jateng Patria Rizky mengatakan, bencana rob memang sering terjadi bahkan menjadi bencana langganan di wilayah pesisir utara Jawa Tengah.

“Banjir rob ini kemudian diperparah dengan adanya penurunan muka tanah,” ujarnya saat dihubungi , Kamis (26/5/2022).

Mengacu pada buku “Maleh Dadi Segoro: Krisis Sosial-Ekologis Kawasan Pesisir Semarang Demak” oleh Bosman, Henny, Ivan dan Syukron tahun 2020, ada 4 faktor penyebab terjadinya penurunan muka tanah di Semarang dan sekitarnya.

Keempat faktor tersebut meliputi, ekstraksi air tanah, konsolidasi sedimen muda, pembebanan bangunan atau konstruksi dan adanya pelabuhan, aktivitas di pelabuhan dan pengerukan sedimen yang terjadi di sekitar Pelabuhan Tanjung Emas.

Adapun proyek TTLSD ini berhubungan dengan faktor pembebanan bangunan atau konstruksi dan aktivitas di Pelabuhan Tanjung Emas.

Sehingga, apabila kedua faktor tersebut menjadi penyebab penurunan muka tanah yang dominan, maka pembangunan TTLSD akan menambah beban dan aktivitas pembangunan di kawasan utara Semarang-Demak.

Dengan demikian, bencana banjir rob yang telah menjadi langganan di pesisir Pantura Jateng ini akan semakin parah oleh adanya proyek TTLSD.

Artinya, bukan malah menjadi solusi masalah yang dicoba ditanggulangi, pembangunan TTLSD justru memiliki potensi untuk memperparah persoalan tersebut.

Hal ini berbanding terbalik dengan tujuan awal pengadaan TTLSD yang disebut oleh para menteri dan pejabat daerah lain bisa memperkuat daya tahan Semarang bagian utara dalam menghadapi banjir rob.

“Menurut sejumlah ahli, pembangunan TTLSD dikhawatirkan akan mengakibatkan terjadinya perubahan arus laut yang akan bergerak ke arah Demak dan membuat abrasi di daerah Demak semakin intens,” tambah Patria.

Selain itu, proyek TTLSD juga mencakup relokasi terhadap mangrove seluas kurang lebih 46 hektar yang masih belum diketahui tingkat keberhasilannya.

Sementara itu, Marsudi dalam disertasinya dengan judul “Prediksi Laju Amblesan Tanah di Dataran Aluvial Semarang Provinsi Jawa Tengah” tahun 2001 membagi kawasan yang ambles ke dalam 3 zona.

Zona I adalah daerah Pelabuhan Tanjung Emas, Tambak Lorok, Tanah Mas, dan Marina dengan ketebalan material urug antara 3-4,5 m, tebal lempung lunak 25-30 m, ketebalan pasir 15-17 m dan penurunan muka air tanah 10-15 m.

Ini menunjukkan bahwa beban tanah urug berperan lebih dominan terhadap terjadinya amblesan tanah, yaitu berkisar antara 52-59 persen, sedangkan akibat penurunan muka air tanah sebesar 41-48 persen.

Zona II adalah Tawang, STM Perkapalan, dan Indraprasta dengan ketebalan tanah urug 2-3 m, tebal lempung lunak 20-25 m, ketebalan pasir 10-15 m, dan penurunan muka air tanah sebesar 6-10 m.

Zona ini memperlihatkan bahwa peran faktor beban tanah urug dan penurunan muka air tanah hampir sama, yaitu berkisar 49-50 persen.

Zona III adalah PRPP, Kampung Peres, Jl. Pemuda, Bulu, Krobokan, Pengapon, P3B, dan Simpanglima dengan ketebalan tanah urug 0,5-2, tebal lempung lunak 5-15, ketebalan pasir 6-10 m, dan penurunan muka air tanah sebesar 1-6 m.

Model yang dia buat memperlihatkan bahwa faktor penurunan muka air tanah lebih dominan 52-64 persen, sementara pembebanan tanah urug berperan relatif lebih kecil 36-48 persen.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Selama Kuartal I, SBI Berhasil Jual Semen 2,99 Juta Ton Di Pasar Domestik
Next post Penyebab Batalnya Pawai Formula E