Potensi IPO Perusahaan Sawit Semakin Besar Setelah Keran Ekspor CPO Dibuka

Spread the love
Read Time:2 Minute, 4 Second

Laporan Wartawan , Reynas Abdila

JAKARTA – Kebijakan pemerintah membuka kembali keran ekspor Crude Palm Oil (CPO) berpotensi membuat perusahaan sawit untuk melakukan penawaran saham umum perdana (IPO). slot gacor 2022

Hal itu dikatakan Komisaris PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) Robiyanto di Jakarta, Jumat (17/6/2022).

NSS sebagai perusahaan perkebunan sawit akan menjadikan momentum kenaikan harga CPO untuk melepas saham ke publik di tahun ini.

“Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas bisnis dan memastikan tata kelola perusahaan menjadi lebih akuntabel dan transparan karena menjadi milik publik,” terang Robiyanto.

Robiyanto mengatakan perusahaan akan mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya Rp 900 miliar.

“Dana hasil IPO akan digunakan untuk mendanai penanaman baru, baik di lahan inti, maupun meningkatkan kualitas tanaman plasma petani, serta pembangunan pabrik baru,” lanjutnya.

Dalam lima tahun ke depan atau tahun 2027, NSS menargetkan sudah memiliki lahan plasma seluas 9.500 ha, 3 PKS dengan kapasitas masing-masing 60 ton per jam.

yakinkan upaya perusahaan menerapkan sertifikat penerapan program lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG), yaitu ISPO, juga akan memperkuat kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di NSS.

Head Of Equity Research PT Ekuator Swarna Sekuritas David Sutyanto menganalisis, selain dukungan dari kenaikan harga minyak sawit mentah, kinerja produsen minyak sawit akan meningkat karena pemerintah telah mengembalikan kebijakan ekspor CPO.

“Kebijakan pemerintah membuka kembali ekspor menjadi potensi besar bagi saham-saham yang mau IPO. Tetapi memang perlu dicermati juga iklim investasinya bagaimana.Tapi adaang jika ja emiten sawit sih sa booming past in m i sa li boom sa , ” urainya.

Sebelumnya, pada awal tahun, pemerintah menaikkan batas maksimal ekspor atau domestic market obligation (DMO) dari 20 persen menjadi 30 persen dari total produksi. Saat ini, kebijakan kembali ke DMO 20 persen sejak 23 Mei 2022.

Dia mengatakan, untuk saham emiten sawit yang terlebih dahulu dicatat di Bursa Efek Indonesia hampir semua mencatatkan kenaikan harga.

Dia mencontohkan, sejak awal tahun, harga saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik dari 9.000 menjadi 12.000 per saham. Saham PT London Sumatera Tbk (LSIP) menguat dari 1,100 menjadi 1,200 per saham.

Namun, David mengemukakan, kenaikan harga saham emiten sawit memang tidak sebesar kenaikan harga CPO.

Kondisi ini, kepemimpinan, terjadi karena pasar masih menegaskan konsistensi kebijakan pemerintah.

Beberapa perusahaan sawit juga masih perlu waktu menegosiasikan kontrak baru yang disebabkan oleh kebijakan
penambahan kuota larangan ekspor di awal tahun.

Potensi kenaikan harga saham emiten sawit besar, tetapi belum melonjak karena adanya kebijakan tadi. Nanti ada tidak boleh ekspor, ada DMO dan sebagainya. ujar David yang juga Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI).

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Namanya Terseret Kasus Tiara Marleen, Doddy Sudrajat Akan Diperiksa Sebagai Saksi Pekan Depan
Next post FAKTA Sekolah Khilafatul Muslimin, Ada 31 Di Indonesia, Tolak UUD 1945 & Beri Gelar Sarjana Khilafah