Lima Teknologi Lama, Bisa Bebaskan Indonesia Dari Emisi Karbon

Spread the love
Read Time:4 Minute, 52 Second

INDONESIA telah berkomitmen mengurangi emisi karbon pada Perjanjian Paris 2015. Indonesia juga menjanjikan target bebas karbon (net zero emissions) pada tahun 2060.

Indonesia terus bertumbuh dan bergerak menjadi negara maju. Dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, pertumbuhan populasi dan bonus demografinya, Indonesia diyakini mencapai keemasannya pada tahun 2045. Tepat 100 tahun Indonesia merdeka. slot gacor hari ini pragmatic

Energi terbarukan

Indonesia akan makmur sejahtera. Sejajar dengan negara maju. Jumlah penduduknya besar. Terjadi elektrifikasi pada sektor transportasi, industri, perekonomian.

Seluruh kebutuhan energi beralih menjadi listrik dengan jumlah besar. Bagaimana kita memenuhi konsumsi yang besar ini?

Dengan menjanjikan net zero emissions, kita tidak akan lagi menggunakan energi fosil.

Riset kami di Australian National University memperkirakan konsumsi listrik Indonesia tumbuh 30 kali lipat dari konsumsi saat ini. Sekitar 9.000 TWh per tahun (Silalahi et al, 2021).

Konsumsi listrik Indonesia diasumsikan setara dengan Singapura – 9000 kWh per kapita.

Dalam riset yang sama, kami menyimpulkan bahwa selain energi terbarukan non surya (air, geothermal, bioenergi, angin, arus laut), Indonesia dapat bertumpu pada energi surya.

Potensinya mencapai 190.000 TWh per tahun. Lebih besar dari kebutuhan listrik dunia tahun 2020.

Lima teknologi lama, kunci transisi energi

Transisi energi menuju bebas karbon dapat diwujudkan tanpa menunggu penemuan teknologi baru. Menurut saya, ada lima teknologi lama yang siap pakai. Berikut ulasannya.

1. Teknologi baterai

Alessandro Volta, seorang Fisikawan Italia, telah menemukan teknologi baterai pada tahun 1779. Jadi baterai ini bukan barang baru. Sudah ada lebih dari dua ratus tahun lalu.

Teknologi baterai terus berkembang dengan prinsip kerja yang sama. Saat ini pengembangannya lebih ke arah menciptakan disain dan bahan baterai yang efisien.

Dok. PT Arkora Hydro Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cikopo di Jawa Barat berkapasitas 7,4 megawatt (MW).2. PLTA pumped storage

Prinsip kerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) pumped storage ini sama dengan PLTA biasa. Dengan memanfaatkan beda ketinggian, air dialirkan dari waduk atas ke waduk bawah melalui sebuah pipa pesat.

Jatuhan aliran air ini menggerakan turbin. Turbin memutar generator, lalu dihasilkanlah listrik.

Pada tahun 1878, pembangkit listrik tenaga air pertama dunia dikembangkan di Cragside, Northumberland, Inggris oleh William George Armstrong. Ini artinya teknologi ini sudah ada lebih dari 100 tahun.

Dengan kemampuan beroperasi antara 50-100 tahun, sistem PLTA pumped storage dapat mengurangi ketergantungan pada baterai konvensional.

Baterai biasanya hanya memiliki umur sekitar 10-15 tahun sebelum diganti. Ini membuat baterai rentan mengalami kekurangan pasokan bahan dasar seperti logam litium dan kobalt.

3. Transmisi High Voltage Direct Current (HVDC)

Teknologi transmisi daya arus searah (HVDC) sudah ada sejak lama. Transmisi HVDC pertama kali beroperasi komersil pada tahun 1950.

Transmisi ini menggunakan kabel laut yang menghubungkan daratan Swedia dengan Pulau Gotland.

Kapasitas proyek pertama hanya 20MW dengan tegangan 100kV DC. Namun teknologi HVDC ini terus berkembang.

Saat ini sedang dibangun proyek transmisi HVDC terpanjang di dunia. Transmisi sepanjang 2400 kilometer, daya 7100 MW, tegangan 600 kV, akan menghubungkan PLTA Madeira River di Amazon dengan pusat beban di tenggara Brazil.

Efisiensi adalah keunggulan utama HVDC dibandingkan dengan HVAC (High Voltage Alternating Current) yang umum digunakan saat ini. Material kabel yang dibutuhkan hanya seperti dari HVAC.

Pada jarak yang sama, rugi-rugi daya HVDC hanya setengah dari rugi-rugi daya HVAC. Dengan level tegangan yang sama, HVDC mampu menyalurkan energi listrik dua kali lipat.

4. Mobil listrik

Pada tahun 1832, Robert Anderson menciptakan mobil roda tiga dengan baterai listrik sebagai tenaga penggeraknya. Mobil listrik buatan Anderson ini diyakini sebagai mobil tenaga listrik pertama di dunia.

Karl Benz menciptakan mobil modern pertama bertenaga listrik pada tahun 1885. Ini artinya mobil listrik sudah berumur cukup lama, hampir 200 tahun.

Teknologi mobil listrik ini terus berkembang cepat seiring dengan perkembangan teknologi baterai yang semakin efisien.

Bahkan pada tahun 2014, untuk promosi yang lebih gencar, mobil listrik telah mempunyai ajang balapan sendiri ‘Formula-E’.

5. Kompor listrik

Shutterstock/LightField Studios Ilustrasi kompor listrik atau kompor induksi, ilustrasi memasak menggunakan kompor listrik.Teknologi kompor listrik sudah berusia lebih dari 100 tahun. David Curle Smith mengajukan permohonan paten atas penemuan kompor listriknya pada tahun 1905.

Penemu kompor listrik lainnya, Lloyd Copeman, juga mengajukan paten pada tahun 1915. Kompor listrik menjadi alternatif pengganti dari kompor gas.

Peran teknologi dalam transisi energi Indonesia

Pada sisi hulu penyediaan dan penyaluran listrik, teknologi baterai, PLTA pumped storage dan transmisi HVDC bisa menjadi kunci transisi energi di Indonesia.

Dengan bertumpu pada energi surya, maka Indonesia harus mampu menangani risiko kekurangan listrik pada saat matahari tidak bersinar.

Adakalanya saat panel surya tertutup bayangan awan. Panel surya kehilangan produksi listrik.

Untuk memastikan kesinambungan pasokan listrik selama 24 jam, perlu penyimpan energi dalam jumlah besar.

PLTA pumped storage dan baterai harus difungsikan sebagai back up. Penyimpan energi ini harus menjamin kontinuitas pasokan listrik.

Potensi PLTA pumped storage sangat besar. Mencapai 321 TWh. Kebutuhannya hanya 25 TWh (Silalahi et al, 2022).

Jika PLTA biasa sepenuhnya dioperasikan sebagai pembangkit listrik, berbeda halnya dengan PLTA pumped storage yang diperankan sebagai penyimpan energi.

Kelebihan listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) saat hari cerah dimanfaatkan untuk memompa air dari waduk bawah ke waduk atas.

Listrik disimpan dalam bentuk volume air yang sewaktu-waktu bisa dialirkan untuk memutar turbin dan memproduksi listrik.

Masalah intermittency yang sering didengungkan para oposan energi terbarukan dijawab oleh kedua teknologi tersebut.

Transmisi HVDC akan dibutuhkan untuk menghubungkan sistem kelistrikan di Indonesia. Negara kita yang berupa gugusan kepulauan perlu diintegrasikan untuk menjamin kehandalan sistem kelistrikannya.

Perbedaan tersedianya potensi energi terbarukan dan potensi PLTA pumped storage bisa ditangani.

Misalnya Pulau Jawa, penduduknya padat, kebutuhan energinya besar. Tidak memungkinkan menyediakan listriknya sendiri.

Maka dengan menghubungkan Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara ke Sistem Jawa Bali, kebutuhan listrik di sana bisa dipenuhi. Integrasi sistem ini dimungkinkan dengan pemanfaatan teknologi HVDC.

Apabila jutaan rumah tangga, restoran besar, mau beralih menggunakan kompor listrik, akan besar volume emisi karbon yang bisa ditekan.

Pemanfaatan teknologi lama yang siap pakai ini akan menjamin listrik yang handal dan tersedia selama 24 jam.

Transisi energi Indonesia menuju netral karbon tidak sekadar janji. Namun semakin realistis untuk diwujudkan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Usai Kylian Mbappe, PSG Beri Penawaran Super Ke Zinedine Zidane
Next post Sentuhan Baru Bikin Tampilan Skylander R22 Makin Sporty