Konsultan: Investasi Oleh Perusahaan Digital Untuk Ciptakan Ekosistem

Spread the love
Read Time:2 Minute, 48 Second

JAKARTA — Selain menerima dana dari investor, perusahaan digital juga melakukan investasi. Diantaranya seperti yang dilakukan Bukalapak yang berinvestasi di Allo Bank, Gojek dan Grab yang berinvestasi di LinkAja, atau Akulaku yang membeli Bank Neo.

Saham yang dibeli oleh perusahaan digital tersebut terbilang tidak terlalu besar, namun mereka tetap tertarik untuk berinvestasi di perusahaan yang sudah berjalan dengan baik. slot online deposit pulsa tanpa potongan

Investasi yang dilakukan oleh perusahaan digital menurut Yoris Sebastian, pendiri OMG Creative Consulting, merupakan hal yang biasa dilakukan oleh perusahaan digital, baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri.

Jika eranya satu perusahaan dipegang secara besar atau mayoritas, namun kini era kepemilikan saham di satu perusahaan kecil dan dipegang oleh banyak investor.

Investasi yang dilakukan oleh perusahaan digital tersebut mencontoh Google yang berinvestasi di berbagai perusahaan yang sudah berjalan. Yoris memperkirakan tujuan dari perusahaan digital tersebut untuk melakukan investasi di perusahaan lain adalah untuk menguasai pasar dan membuat ekosistem digital yang lebih besar dan kuat.

“Biasanya pemilik dari perusahaan yang diakusisi dijadikan komisaris. Seperti Tokopedia yang mengakusisi Bridestory dan Parentstory. Pendiri tetap menjadi pemilik saun perin minoritas bersama dengan pemembalmelia usa meena melan investor ada dir dengan pemembalmelia usa minoritas k founder-nya, bukan idenya sendiri. Investor tersebut tetap membutuhkan pendirinya untuk memperbesar perusahaannya,” ujar Yoris, Sabtu (21/5/2022).

Langkah perusahaan digital yang membeli beberapa saham perusahaan dinilai sebagai salah satu langkah kerjasama (bekerjasama), bukan kompetisi (bersaing satu dengan yang lainnya).

Banyak perusahaan digital global saat ini melakukan coopetition dibandingkan kompetisi, sehingga tujuan lain dari akusisi ini adalah menguragi perang harga yang tidak sehat. Hal ini menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan besar.

“Semakin besar potensi perusahaan tersebut tumbuh dan pendirinya memiliki visi yang bagus, maka akan banyak pemegang saham yang dimiliki perusahaan tersebut. dibeli,” ujarnya.

Dia mengatakan, perusahaan investasi milik Pemerintah Singapura melakukan akuisisi perusahaan rintisan di Silicon Valley. Perusahaan dan pendirinya yang diambil tidak dikenal sama sekali. Namun karena idenya bagus, mereka masuk sebagai angel capital di perusahaan startup tersebut dengan kepemilikan saham 7 persen.

Startup yang dibiayai tersebut ketika ingin mengembangkan usahanya di Asia, harus membuka kantor dan membayar pajak di Singapura.

“Lihat Astra dan Telkomsel yang masuk ke Gojek. Industri film Korea juga membeli saham jaringan bioskop terbesar di Indonesia. Saat ini investor melakukan investasi melihat bisnis strategis dari perusahaan digital tersebut di masa depan dan potensi Jadi jangan hanya melihat jumlah saham yang kecil,” terang Yoris.

Meski pasar modal industri global dan Indonesia tengah mengalami tekanan akibat kenaikan suku bunga FED, Yoris melihat peluang perusahaan teknologi di Indonesia masih terbuka sangat luas. Yoris mengakui saat ini angel investor yang akan masuk ke perusahaan digital jauh lebih berhati-hati dengan melihat rencana bisnisnya.

“Mereka akan menghindari rintisan yang masih mencari uang.Saat ini banyak perusahaan yang memiliki rencana bisnis jelas,” kata dia.

Agar mencapai keuntungan maksimal, dia mengatakan investasi atau akuisisi saham yang dilakukan oleh perusahaan digital tersebut harus memiliki visi investasi jangka panjang, bukan investasi jangka pendek terbaik.

Coba anda lihat BCA dan Astra yang masuk ke perusahaan startup. Apakah mereka sekarang keluar? Bahkan Group Djarum sampai saat ini masih menjadi pemegang saham pengendali dan meusatak akan mele invest mele pasanreka dan Astra yang masuk mau mele invest memiliki potensi bisnis di masa mendatag,” ujarnya.

Mereka melihat investasi selalu dalam jangka panjang, bukan mencari keuntungan sewaktu-waktu Jika mereka keluar dari perusahaan tersebut berarti potensi bisnisnya sudah ada.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post G7 Sepakat Hibahkan 18,4 Miliar Dolar AS Paket Bantuan Baru Untuk Ukraina
Next post Kementerian Kesehatan: Kasus Cacar Monyet Belum Masuk Ke Indonesia